Website

Biaya Marketplace Naik di 2026? Ini Cara UMKM Mulai Jualan Lewat Website Sendiri

Kalau Anda berjualan di marketplace, kemungkinan besar Anda sudah merasakannya: setiap bulan ada saja potongan baru di laporan penghasilan. Angka penjualan terlihat bagus, tetapi uang yang benar-benar masuk ke rekening makin tipis.

Ini bukan perasaan saja. Sepanjang 2025 hingga 2026, platform e-commerce besar di Indonesia menaikkan biaya untuk penjual secara bertahap, lalu serentak di bulan Mei 2026. Artikel ini membahas apa saja yang berubah, kenapa ketergantungan pada satu platform itu berisiko, dan bagaimana UMKM bisa mulai membangun kanal jualan sendiri secara bertahap, tanpa harus menutup toko di marketplace.

Apa Saja yang Naik?

Kenaikan biaya marketplace tidak terjadi dalam satu kali pengumuman. Polanya berlapis, dan justru itu yang membuatnya sering tidak terasa sampai margin sudah habis.

  • Biaya proses pesanan. Shopee mulai mengenakan Rp1.250 per transaksi selesai sejak Juli 2025, lalu TikTok Shop dan Tokopedia menyusul dengan nominal yang sama pada Agustus 2025.
  • Biaya administrasi per kategori. Tokopedia menaikkan biaya layanan bertahap mulai Oktober 2025, sementara Shopee menyesuaikan struktur biaya per kategori mulai Januari 2026.
  • Biaya program gratis ongkir. Mulai 2 Mei 2026, penjual Shopee yang ikut program Gratis Ongkir XTRA dikenakan biaya layanan hingga 8% untuk produk ukuran biasa dan hingga 9,5% untuk produk ukuran khusus. Biaya ini berlaku untuk semua pesanan selesai, baik yang memakai voucher gratis ongkir maupun tidak.
  • Biaya layanan logistik. Sejak 1 Mei 2026, TikTok Shop mengenakan biaya logistik per pesanan yang dihitung dari berat paket dan rute pengiriman.
  • Batas maksimum komisi. Tokopedia mengubah batas maksimum komisi per item yang berlaku mulai 18 Mei 2026. Sejumlah media melaporkan batasnya naik dari Rp40.000 menjadi Rp650.000, sehingga produk bernilai tinggi kini bisa terkena potongan jauh lebih besar.

Kenaikan ini sampai mendapat perhatian pemerintah. Kementerian UMKM menyatakan akan memanggil platform, asosiasi ritel, dan pihak logistik untuk mencari jalan tengah. Namun sampai sekarang, belum ada aturan yang langsung melindungi margin penjual.

Kenapa Ini Berbahaya untuk Margin UMKM?

Mari pakai analogi sederhana. Bayangkan Anda menyewa lapak di mal besar. Mal itu ramai, pengunjungnya banyak, dan Anda tidak perlu repot mencari pembeli. Tapi pemilik mal bebas menaikkan sewa kapan saja, mengatur di mana lapak Anda ditempatkan, dan menyimpan daftar pelanggan Anda untuk dirinya sendiri.

Marketplace bekerja dengan cara yang mirip. Potongan yang Anda bayar bukan hanya biaya admin, tetapi tumpukan dari komisi kategori, biaya program ongkir, biaya proses pesanan, biaya logistik, voucher, diskon, dan iklan supaya produk tetap terlihat. Setiap lapis terlihat kecil, tetapi jika dijumlahkan bisa memakan bagian yang besar dari harga jual.

Contoh hitungan sederhana (angka ilustrasi, sesuaikan dengan produk Anda):

  • Harga jual — Di marketplace: Rp150.000 — Di website sendiri: Rp150.000
  • Modal produk (HPP) — Di marketplace: Rp90.000 — Di website sendiri: Rp90.000
  • Total potongan platform (asumsi 20%) — Di marketplace: Rp30.000 — Di website sendiri: –
  • Biaya pembayaran online (asumsi) — Di marketplace: – — Di website sendiri: Rp3.000
  • Biaya iklan per order (asumsi) — Di marketplace: – — Di website sendiri: Rp15.000
  • Laba kotor per order — Di marketplace: Rp30.000 — Di website sendiri: Rp42.000

Selisih Rp12.000 per order mungkin terdengar kecil. Tetapi kalau Anda menjual 300 order sebulan, itu Rp3,6 juta yang selama ini mengalir ke luar. Untuk produk bermargin tipis seperti fashion, makanan, atau kebutuhan harian, potongan beberapa persen saja bisa mengubah untung menjadi rugi.

Yang tidak kalah penting adalah risiko yang tidak terlihat di tabel. Ketika semua penjualan bergantung pada satu platform, perubahan aturan, algoritma, atau tarif bisa langsung memukul bisnis Anda tanpa ada yang bisa Anda lakukan.

Bukan Pindah, tapi Menambah Kanal

Membangun kanal sendiri bukan berarti menutup toko di marketplace. Marketplace tetap berguna untuk menjangkau pembeli baru yang belum mengenal merek Anda, dan sistem ulasannya membantu membangun kepercayaan awal.

Strategi yang lebih sehat adalah model hybrid:

  • Marketplace sebagai etalase dan sumber pembeli baru.
  • Website dan WhatsApp sebagai rumah sendiri, tempat pelanggan yang sudah percaya kembali berbelanja dengan margin yang lebih baik bagi Anda.

Beberapa merek lokal sudah terang-terangan menerapkan pola ini, misalnya dengan mengajak pelanggan setia berbelanja lewat website resmi atau WhatsApp.

6 Langkah Mulai Jualan Lewat Website Sendiri

Anda tidak perlu membangun semuanya sekaligus. Anggap seperti menyusun balok: mulai dari yang paling dasar, lalu tambahkan sesuai kebutuhan.

1. Hitung ulang margin per produk

Sebelum membangun apa pun, tarik laporan penghasilan dari marketplace dan hitung laba bersih per produk setelah semua potongan. Produk yang marginnya paling tergerus adalah kandidat pertama untuk didorong ke kanal sendiri.

2. Siapkan halaman penjualan yang menjawab pertanyaan pembeli

Tidak harus langsung toko online besar. Satu landing page yang rapi sudah cukup untuk memulai, asalkan memuat foto produk yang jelas, manfaat utama, harga, testimoni, cara order, info pengiriman, dan tombol WhatsApp. Pastikan halaman cepat dibuka di HP, karena sebagian besar pembeli Anda datang dari ponsel.

3. Jadikan WhatsApp pusat closing

Banyak transaksi UMKM di Indonesia tetap terjadi lewat chat. Siapkan template balasan untuk pertanyaan yang sering muncul, seperti stok, ukuran, ongkir, dan cara bayar. Respons cepat sangat penting, karena di luar marketplace tidak ada tombol checkout otomatis yang menahan pembeli.

4. Bangun rasa aman saat bertransaksi

Pembeli baru wajar ragu: "Toko ini beneran, nggak?" Kurangi keraguan itu dengan pilihan pembayaran yang familiar seperti QRIS, transfer, atau COD, serta informasi kurir dan nomor resi yang jelas. Domain sendiri dan tampilan website yang profesional juga ikut membangun kepercayaan.

5. Simpan data pelanggan sejak order pertama

Inilah keuntungan terbesar jualan mandiri. Di marketplace, data pelanggan dipegang platform. Di kanal sendiri, Anda bisa mencatat nama, nomor WhatsApp, produk yang dibeli, dan tanggal pembelian. Dari data sederhana ini, Anda bisa mengirim promo pelanggan lama, pengingat stok ulang, atau penawaran produk pelengkap.

6. Datangkan trafik dan ukur hasilnya

Website tanpa pengunjung ibarat toko di gang sepi. Sumber trafik bisa dari media sosial, komunitas, pelanggan lama, artikel blog yang dioptimasi SEO, hingga Google Ads untuk kata kunci yang dicari calon pembeli. Pasang alat analitik sejak awal supaya Anda tahu dari mana pembeli datang, berapa yang chat, dan berapa yang benar-benar membeli.

Kesimpulan

Kenaikan biaya marketplace di 2026 adalah pengingat bahwa bisnis yang sehat tidak bisa bergantung pada aturan main pihak lain. Tetap manfaatkan marketplace untuk mencari pembeli baru, tetapi mulailah membangun aset yang Anda kendalikan sendiri: website, nomor WhatsApp bisnis, dan data pelanggan.

Mulailah dari yang kecil. Satu landing page untuk produk andalan dan satu alur order lewat WhatsApp sudah merupakan langkah nyata untuk menjaga margin.

Butuh bantuan menyiapkan website atau landing page yang cepat, mudah ditemukan di Google, dan siap menerima order? Tim jasain.id siap membantu UMKM memulai kanal jualan sendiri, dari desain, pembuatan website, hingga SEO dan iklan.

T

Tim jasain.id

// Tim jasain.id

Bagian dari tim jasain.id yang fokus bangun website cepat, rapi, dan gampang dikelola untuk UMKM. Suka ngoprek otomasi biar kerjaan repetitif jadi beres sendiri.

// Siap mulai?

Mau Website yang Beres dari Awal?

Nggak perlu pusing mikirin struktur, copywriting, atau teknisnya. Ceritain bisnismu, nanti kita bantu bikin website yang rapi & siap dapat pelanggan.

// Baca juga

Artikel Terkait

// Lanjut baca

Masih Banyak Tips Lain di Blog Kami

Dari SEO, Google Ads, sampai desain — semua ditulis biar gampang dipahami dan langsung bisa dipakai buat bisnismu.

Konsultasi via WhatsApp →